Seorang murid tampak murung di hadapan gurunya. Ia sengaja mendatangi
sang guru karena satu alasan: mencari solusi dari seribu satu masalah
yang seperti tak pernah henti menderanya. Belum masalah yang satu
selesai, masalah baru pun muncul, berkembang, dan seterusnya.
“Guru, kenapa hidupku teramat sulit. Masalah seperti tak pernah mau
menjauh dariku,” ungkap sang murid menunjukkan wajah galaunya. Semangat
belajarnya seperti akan pupus dengan seribu satu masalah hariannya.
“Muridku, perhatikan apa yang akan aku lakukan dengan segelas air
tawar ini,” ucap sang guru sambil memasukkan sebungkus serbuk jamu
kedalam gelas.
Setelah diaduk, sang guru pun mempersilakan muridnya untuk mencicipi
air yang berubah kehijauan itu. “Silakan kau coba!” ucapnya lembut.
Sang murid pun meraih gelas itu untuk kemudian mencicipinya. “Pahit!
Pahit sekali guru!” ucapnya begitu spontan. Tapi, sang murid masih belum
mengerti dengan segelas jamu itu.
Sesaat kemudian, sang guru pun mengajak muridnya untuk berjalan
menuju tepian kolam di sebuah taman alam. Taman itu begitu asri.
Sejumlah mata air dari tanah pegunungan mengalir perlahan menuju kolam
taman.
Dan, sang guru pun menaburkan tiga bungkus serbuk jamu lain ke kolam.
“Silakan kau aduk-aduk kolam yang luas itu semampumu, dan cicipi apakah
airnya ikut terasa pahit!” ucap sang guru kemudian.
Setelah mengaduk, sang murid pun mencermati wajah air kolam yang
sedikit pun tidak berubah warna. Dan, ia pun mencicipinya. “Tawar,
guru!” ucapnya kemudian.
“Muridku, bayangkan jika serbuk jamu itu kau taburkan di danau yang
luas. Berpuluh-puluh bahkan mungkin beratus-ratus bungkus serbuk jamu
pun yang kau taburkan, warna air danau tak akan berubah, apalagi menjadi
pahit!” ungkap sang guru kemudian.
“Maksud guru?” serbah sang murid masih belum menangkap isi nasihat gurunya.
“Perbesarlah wadah dan isi air, apa pun yang masuk, tidak akan
mengubah rasanya.
Perbesarlah wadah jiwa kita, seberapa besar pun
masalah yang dihadapi, insya Allah, ia tetap hambar dan tak akan
mempengaruhi diri kita,” jelas sang guru yang disambut anggukan pelan
muridnya.
**
Baginda Rasulullah saw. pernah mengungkapkan keunggulan jiwa seorang
mukmin. Jika diberi nikmat ia bersyukur, dan itu menjadi nilai plus buat
dirinya. Dan jika diuji dengan ketidaknyamanan, ia bersabar, dan itu
pun menjadi nilai plus lain buat dirinya.
Tapi boleh jadi, belum banyak dari kita yang merasakan bahwa sabar
adalah ungkapan untuk menunjukkan betapa luas dan dalamnya wadah jiwa
seorang mukmin. Seluas samudera yang akan menghambarkan apa pun yang
mencemarinya.
sumber :
http://www.eramuslim.com/hikmah/tafakur/wadah.htm